Friday, December 4, 2009

Ayuh Bersatu - Eratkan Ukhwah, Perkasakan Dakwah

Assalamualaikum,

Allah swt telah menegaskan bahwa orang-orang yang beriman adalah bersaudara dan persaudaraan itu di asaskan di atas dasar iman sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur'an :

"Orang-orang yang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka oleh itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat". (QS Al Hujuraat : 10)

Di dalam kehidupan bersaudara ini, Rasulullah saw memperdalamkan lagi penjelasan agar seorang mukmin dengan orang mukmin yang lain boleh bekerjasama dan saling memberi dan mengisi.

Bahkan beliau mengibaratkan kesatuan orang-orang mukmin secara idealnya menyerupai satu tubuh, sebagaimana sabda beliau;

"Perumpamaan kaum mukminin dalam berkasih-sayang dan saling mencintai, bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh merasa demam dan tidak boleh tidur."

Namun jika kita memperhatikan realiti umat Islam hari ini, idealisma yang digambarkan oleh Al-Qur'an dan Hadist tersebut ternyata jauh panggang dari api bahkan mungkin sukar untuk direalisasikan.

Bahkan yang berlaku adalah sebaliknya, iaitu di antara umat Islam, timbul berbagai perselisihan dan perpecahan.

Tentulah perkara ini menjadi sebuah fenomena yang cukup memperihatinkan kerana di satu sisi, umat Islam ketika ini perlu berhadapan dengan berbagai masalah kehidupan, namun di sisi lain, mereka berpecah-belah dan bercera-berai.

Akibat secara langsungnya tentulah menjadikan umat Islam tidak efektif dalam usahanya untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan ini dan semakin tidak berdayanya usaha untuk memajukan umat ini.

Mengingatkan perintah Allah agar kita bersaudara sesama kita di samping sentiasa memperbaiki tahap persaudaraan itu, maka selayaknya setiap mukmin memperhatikan persoalannya dalam isu persaudaraan ini.

Mengapa umat Islam kini berpecah belah, lalu apakah langkah-langkah untuk menghadapi situasi yang cukup kritikal ini.

Al-Qur'an ketika menyebutkan bahwa kaum mukminin bersaudara dan memerintahkan untuk memperbaikinya telah pula memberikan resipi untuk usaha ke arah itu.

Dalam surah Al Hujuraat, Allah swt memaparkan 7 cara bagi kita untuk mengelakkan virus-virus penyakit dari menggigit ukhuwah yang boleh menghancurkan saf ukhuwah yang telah dibina.

1. "Tabayyun"

"Tabayyun" bererti mencari kejelasan informasi dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima.

Allah swt berfirman :

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa berita maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu." (QS Al-Hujuraat : 6)

"Tabayyun" memiliki nilai tersendiri untuk menghindarkan dari segala tindakan di atas dasar prasangka. Prasangka boleh jadi benar dan boleh pula salah.

Jika ketepatan sebuah prasangka itu salah, sementara seseorang sudah bertindak, maka tindakan itu tidak mampu untuk dihapuskan selama-lamanya.

Untuk itulah, jika ada berita dari seseorang yang fasik, yang keperibadiannya meragukan, maka perlu diperiksa dan dinilai berulang kali agar kelak tidak menyesal dengan keputusan yang diambil.

2. Tidak memperolok-olokkan orang atau kelompok lain.

Firman Allah swt :

"Wahai orang-orang yang beriman janganlah satu kaum memperolok-olokkan kaum yang lain (kerana) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok-olokkan) ." (QS Al Hujuraat :11)

Ketika ini terdapat banyak kelompok atau organisasi dakwah. Perlu kita sedari bahwa di antara kelompok-kelompok dakwah tersebut terdapat perbezaan samada yang prinsip mahupun yang bukan prinsip. Perbezaan dalam menentukan sasaran tertinggi termasuk dalam masalah prinsip.

Keadaan ini akan menarik kepada suasana persaingan yang kadang-kadang bentuknya tidak sihat. Persaingan ini akan semakin tidak sihat dengan timbulnya elemen-elemen yang mudah untuk melontarkan ungkapan-ungkapan yang bernada cemohan dan cercaan antara mereka.

Dr Yusuf Al Qardhawi menyebutkan dalam salah satu tulisannya bahwa berhimpunnya kelompok-kelompok dakwah dan harakah yang ada di bumi sekarang ini adalah suatu mimpi indah. Maka kesatuan "wala'" (kesetiaan) dan tumbuhnya suasana bekerjasama dalam menghadapi konspirasi para thaghut adalah sesuatu yang tidak boleh ditawar-tawar lagi.

Secara realitinya, walaupun keadaan ini belum benar-benar dapat diwujudkan disebabkan ada beberapa perkara yang belum boleh kita lakukan, namun tidak mampukah kita sekadar meninggalkan tradisi memperolokkan- olokkan sesama kita dan perasaan "aku lebih baik daripadanya" seperti yang dinyatakan oleh iblis???

3. Tidak mencela orang lain.

Ini ditegaskan oleh Allah swt dengan firman-Nya:

"Dan janganlah kamu mencela diri sendiri".

Di dalam ayat ini, mencela sesama muslim dianggap sebagai mencela diri sendiri kerana pada hakikatnya kaum muslimin dianggap sebagai satu kesatuan. Apalagi jika celaan itu adalah berkait dengan masalah status dan ukuran kebendaan.

Allah swt sendiri menyuruh Rasulullah saw dan orang-orang yang mengikutinya untuk bersabar atas segala kekurangan orang-orang mukmin.

"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru tuhannya di waktu pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaanNya. " (QS Al-Kahfi : 28)

4. Meninggalkan panggilan dengan sebutan-sebutan yang tidak baik terhadap sesama muslim.

Ini berdasarkan firman Allah swt :

"Dan janganlah kamu saling memanggil dengan sebutan-sebutan (yang buruk)." (QS Al-Hujuraat : 11)

Sebutan yang tidak baik akan menyebabkan orang yang disebut itu terhiris hatinya. Jika hati sudah terhiris, maka persaudaraan pasti akan retak. Oleh kerana itulah penyebutan nama atau pelabelan seseorang dengan nama yang tidak baik akan merosakkan persaudaraan.

Gelaran dalam bentuk yang paling parah adalah berupa pengkafiran terhadap orang yang beriman. Dalam kenyataan dewasa ini, masih sahaja wujud orang atau kelompok yang dengan begitu mudahnya menuduh kafir kepada orang yang tidak tertarik untuk masuk ke dalam kelompok mereka.

Sama juga dalam pengertian ini adalah pemberian gelaran-gelaran yang buruk kepada sesama kaum muslimin seperti penamaan gelaran Wahabi, Khawarij, teroris, fundamentalis dan berbagai sebutan yang bernada negatif adalah termasuk ke dalam makna ayat ini.

5. Menjauhi Prasangka

Allah swt berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, kerana sebahagian prasangka itu dosa." (QS Al-Hujuraat :12)

Pada dasarnya seorang muslim mesti berbaik sangka terhadap sesama muslim yang lain.

Dalam setiap permasalahan dengan sesama muslim, hendaklah menghadapinya dengan sangkaan yang positif dan ketika adanya bukti yang jelas tentang kesalahan tersebut barulah seseorang itu boleh mengambil sikap.

Namun sebaliknya, kepada orang kafir dan musuh Islam, kaum muslimin mesti menaruh rasa curiga apabila mereka bermanis muka dan berbudi.
Allah swt sendiri menegaskan :

"Sesungguhnya orang-orang kafir menginfakkan harta-harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Allah." (QS Al-Anfal : 36)

Buruk sangka adalah salah satu cara syaitan mencerai-beraikan Bani Adam.

Dalam sebuah hadits dari Ummul Mukminin Shafiyah binti Huyai, dia bercerita :

"Rasulullah saw pernah i'tikaf di masjid, lalu aku datang menjenguk beliau pada suatu malam untuk berbincang-bincang dengan beliau. (Setelah selesai) aku pun bangkit untuk kembali dan beliau pun bangkit bersamaku untuk menemani. Ketika itu lewatlah dua orang laki-laki Anshor ra. Tatkala mereka melihat Rasulullah saw, mereka pun mempercepatkan langkahnya. Rasulullah saw pun berseru : "Perlahanlah! Wanita ini adalah Shafiyah!" Dua orang itu pun berkata : "Subhanallah, ya Rasulullah!" Maka Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya syaitan menjalar pada diri Adam pada aliran darah dan sungguh aku khuatir syaitan akan melemparkan kejahatan pada hati kamu berdua (ketika melihat aku) lalu terucaplah sesuatu." (HR Bukhari)

6. Tidak mencari-cari kesalahan dan aurat orang lain.

Perbuatan ini amat dicela oleh Islam. Allah swt amat suka bila kita berusaha menutup aib saudara kita sendiri.

Firman Allah swt :

" Dan janganlah kamu sekelian mencari-cari kesalahan (dan aurat) orang lain." (QS Al-Hujurat : 12)

Demikianlah di dalam Islam, Allah mengajarkan agar umat islam tidak suka mengintai-ngintai saudaranya.

Tersebut sebuah kisah di kalangan sahabat di mana seseorang menemui Abdullah bin Masud dan berkata, "Itu Walid bin Uqbah dan dari janggutnya menitis khamar." Ibnu Masud berkata, "Kita dilarang ber'tajassus' . Jika memang nampak jelas suatu kemaksiatan, barulah kita mengambil sikap."

Adalah jelas di kalangan para sahabat, bagi tujuan kepentingan masyarakat Islam, mereka sanggup meninggalkan perbuatan mengintai-ngintai.

Namun yang berlaku dewasa ini, ramai orang yang mengaku Islam dengan berlindung di sebalik penelitian ilmiah lalu mengamati dan menilai orang atau kelompok lain dan akhir kesudahannya adalah semata-mata bertujuan merendah-rendahkan dan mengurangkan keyakinan masyarakat kepada orang atau kelompok tersebut.

Semua tindakan tersebut adalah dilarang dan hanya akan merosakkan ukhuwah atau persaudaraan.

7. Menjauhi "ghibah" atau mengumpat.

Allah swt menegaskan :

"Dan janganlah kamu sekelian mengumpat sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?…"

Definasi "ghibah", sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah swt adalah :

"Ghibah itu kamu menyebut saudaramu tentang apa-apa yang dia tidak suka. Mereka bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika yang ada pada saudaraku itu seperti yang aku katakan?, Rasulullah menjawab, Jika padanya seperti yang kamu sebutkan, itulah yang dinamakan "ghibah". Dan jika tidak ada padanya maka bererti kamu telah menuduhnya." (HR Muslim)

Dari riwayat hadits di atas, kita boleh membuat kesimpulan bahwa ketika seseorang menceritakan keburukan orang lain, maka ada dua kemungkinan yang berlaku :

Pertama, jika yang diceritakannya benar-benar berlaku maka itulah "ghibah".

Kedua, jika yang diceritakannya itu tidak berlaku bererti ia telah memfitnah orang lain.

Begitu besarnya dosa mengumpat, sehingga Allah swt menyamakan orang yang melakukannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.

Meskipun Al-Qur'an sudah menjelaskan betapa besarnya dosa mengumpat, namun kita lihat banyak program televisyen yang berasaskan "gossip" atau mengumpat di samping majalah-majalah picisan kini amat diminati oleh masyarakat.

Jika sekadar menggambarkan peribadi seseorang sahaja itupun sudah mendapat teguran keras daripada Rasulullah saw, lalu bagaimana dengan menyebutkan sesuatu yang lebih buruk dari itu?

Alangkah hinanya gambaran mereka-mereka yang terlibat dengan aktiviti "ghibah"atau mengumpat ini.

Ya Allah, berilah kekuatan iman kepada kami untuk kami memperkukuhkan ukhuwah di kalangan umat Islam dan menjadikan usaha pengislahan sesama kami sebagai jalan penyelesaian kepada keutuhan ukhuwah. Mudahkanlah kami dalam mencerna dan melaksanakan tujuh cara yang Engkau telah tetapkan dalam Al-Qur'an bagi mengelakkan ukhuwah dari dirobek-robekkan serta menjadikan ukhuwah teras kegemilangan umat Islam.

Ameen Ya Rabbal Alameen

Saturday, November 21, 2009

Barakallahulakum...








Akhirnya hajat Aman untuk melangsungkan pernikahan tercapai juga... Moga Allah merahmati usaha ini... Jazakumullah khair buat mama dan baba...

Wednesday, November 18, 2009

Kesekian Kali

Alhamdulillah semalam sempat tukar 3 layout blog. Blog bancik, keluarga dan blog sendiri. Dengan izin Allah juga ana dapat merasai nikmat tarbiyah dan yang terpenting tarbiyah dzatiyah. Suasana yang berbeza kala tinggal bersama akhwat di rumah sewa dahulu berbanding tinggal di rumah sendiri kala ini. Keadaan yang sangat menguji ini pasti meninggalkan bekas. Kerana, semuanya atas kehendak diri sendiri juga petunjuk Ilahi. Bagaimana mutabaah sekarang, bagaimana pendidikan anak sekarang? Semuanya perlu difikirkan dan dinilai setelah hari-hari berlalu.

Buat yang berada di rumah, saksikan kehebatan tarbiyah dzatiyah, saksikan kehebatan nafsu melawan iman, saksikan diri kita yang sedang membawa arus. Da'ie bukan dibawa arus. Biar tercampak di negeri seberang, arusnya tetap kita halakan.

Banyak perkara-perkara yang berlalu tanpa sebarang update di sini. Sekadar ingin menenangkan fikiran dan mengkoreksi semula amal-amal seharian. Juga memperbaharui niat yang seringkali terbabas.


Kita beramal bukan perlu dipaksa. kerana paksaan itu akan membuahkan kebencian. Bila diri merelakan paksaan itu, maka diri sendiri akan memaksa diri sendiri.
 

Moga amal kita dinilai dan dilihat oleh Allah. Bukan sia-sia...

Tuesday, November 17, 2009

Muhammad Ammar Ar-Ridho - Syahid Kecil

Sebuah cerpen ini, belum kubaca. Sebuah perjalanan perit bercampur pahit. Tiada kata lain yang boleh dirungkai. Memang bukan waktunya lagi untuk kubaca dan kutatap. Pasti basah bumi bak kesedihan ini... Satu hari akan kubaca perjalanan mujahid Ammar ini, cahaya hati ukhti tercinta. Hebat pengorbanannya. Sehingga kini, beliau telah dikurniakan seorang lagi permata suci.

_______________________________




Tepat 1 tahun yang lalu..

Masih di bulan Ramadhan, seperti biasa sesudah subuh, sebelum ke makmal Kimia Analisis, saya beriktikaf di masjid Unimas, waktu ketika itu menunjukkan hampir jam 10 pagi. , dek kerana keletihan, saya tertidur di lantai masjid, tiba tiba ada sms masuk

"Hafiz, ibu nak bagitau, Dikni dah masuk labour room, ibu hantarkan pagi tadi, di Hospital Kajang"..kiriman sms dari ibu saya.

Saya masih tidur, langsung tak perasan ada sms masuk, tambahan lagi saya biarkan Handphone saya dalam silent mode. Masuk sms yang kedua.

"Abang, doakan dikni, halalkan makan minum dikni, dikni minta maaf banyak banyak, dikni sekarang dah di labour room"..kiriman sms dari isteri saya.

Tak lama kemudian saya terjaga, langsung saya membaca sms, alangkah terkejutnya saya kerana isteri saya masih berbaki sebulan setengah lagi dari tarikh duenya, tak sangka akan beranak sebegini awal.

Saya terus menelefon isteri saya, tak berangkat, kemudian saya menelefon ibu saya.

"bagaimana keadaan Dikni bu?"..tanya saya

"Dikni ibu dah hantar ke labour room tadi, semalam ada contraction dan rahim pun dah terbuka"..jawab ibu saya

Sekali lagi saya menelefon isteri saya, Alhamdulillah kali ini berjawab, saya tiupkan kata kata semangat untuk dia berjuang. Ya berjuang, berjuang untuk melahirkan seorang Mujahid. Saya hanya pasrah, menerima segala ketentuan Ilahi.

Saya berwuduk, kemudian solat hajat mohon Allah mudahkan segalanya. Dalam sujud saya tak berhenti henti berdoa, tanpa disedari air mata saya mengalir terkenangkan segala nikmat dan kurniaan yang Allah kurniakan kepada saya. Nikmat kebahagiaan berumah tangga yang jarang dikecapi oleh pemuda lain seusia saya. Kurniaan Allah yang telah membuatkan saya dewasa dan sedikit matang dalam berfikir walaupun baru berusia 21 tahun. Juga nikmat dikurniaknan isteri solehah yang tidak pernah mengingkari saya walau sekali, yang sering menghiburkan saya dengan nyanyian nyanyiannya yang melembutkan hati.

Dan diantara tanda tanda (kebesaran-NYA) ialah dia menciptakan pasangan pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram padanya, dan dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir (Ar-Rum 30:21)

Jam 12 tengah hari,

Saya menelefon ibu saya semula, tanyakan khabar tentang isteri dan anak saya.

"Macam mana ibu dengan dikni, dah bersalin?"..tanya saya

"Alhamdulillah sudah tadi, dikni alhamdulillah o.k, tengah tidur kepenatan, cuma...cuma..baby ada masalah sikit"..jawab ibu saya

Masalah apa ibu?.. saya bertanya

"Abnormal sikit, dia flat, usus nya di luar bukan di dalam (gastrochisis), tambahan lagi dia premature jadi dimasukkan ke ICU, petang ini pihak hospital akan bawa ke Hospital Kula Lumpur untuk operation memasukkan usus"..ibu saya menerangkan

Saya pasrah dan redha dengan ketentuannya, saya bersyukur kerana isteri saya selamat, tentang baby saya serahkan kepada Allah, kerana dialah pemiliknya yang sebenar, saya hanyalah orang yang diamanahkan untuk menjaganya.

Kemudian saya menelefon mak saudara saya yang saya panggil sebagai Mak Lang, kebetulan dia bertugas sebagai doktor di Hospital Kuala Lumpur (HKL), saya memintanya untuk membantu apa yang patut..

Tak lupa juga, saya pesankan kepada ayah saya untuk mengazankan ke telinga anak saya..

Jam 9 malam, ketika operation,

Malam tersebut saya hanya mampu berdoa supaya Allah lancarkan segalanya. Kebetulan malam itu saya ada halaqah bersama ikhwah ikhwah Medic, saya juga mohon mereka berdoa bersama saya.

Yang paling mengharukan saya, ketika ikhwah ikhwah dan akhwat memberi kiriman sms kepada saya mendoakan ketabahan saya dan isteri dan ramai juga yang menelefon

Sungguh peristiwa ini takkan pernah luput dari ingatan saya, saya mendapat sms dari ikwah dan akhawat dari Perlis utara semenanjung hinggalah ke Sabah. Semua sms yag dikirim menaikkan semangat saya dan benar benar memotivasikan saya. Oh! sungguh indah berukhwah keana-Mu Ya Allah..

Malam tersebut, dalam tahajud saya pasrahkan segala galanya kepada Allah, dan siap menerima segala ketentuaNYA..

Keesokannnya..

Saya sudah bersiap untuk pulang ke Kajang dari Sarawak, ribuan terima kasih buat Mak lang saya yang telah membelikan tiket untuk saya pergi dan pulang. Sungguh, saya akan kenang sebagai sebuah memori yang indah kerana memang di saat itu saya langsung tak berduit..

Turun saja dari flight, saya mendapat kiriman sms dari Mak lang saya

" Mak lang sudah ziarah baby tadi kat Hospital, kebetulan masa Mak lang pergi tu ada pakar, Alhamdulillah, baby sudah selamat operation, usus berjaya dimasukkan sepenuhnya, dan pusat pun dah cantik"..

Saya hanya mampu bersyukur dan menangis tika itu

" Maha suci Allah yang menciptakan manusia dengan sebaik baik kejadian"..demikian bisikan hati saya

Seminggu sesudah operation,

Anak saya, saya namakan dengan Muhammad Ammar Ar-Ridho, inspirasi dari Muhammad Ahmad Ar-Rasyid, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin di Iraq. Saya namakan dengan Ar-Ridho, mudah mudahan dia rido dengan ketentuan Allah terhadap dirinya.

Keadaan Ammar bertambah baik, sudah mula minum susu ibu setelah seminggu berpuasa, tetapi masih melaui tiub yang disalurkan langsung ke perutnya.





Ammar sudah mula senyum, teringat saya waktu saya menziarahinya dengan sepupu saya. Semasa saya datang ,saya dengar dia menangis dan terus menangis, bila ternampak saja saya dia terus diam, demikian juga bila umminya datang. Dia juga akan berhenti menangis bila tangan umminya menyentuh tubuhnya dan akan sangat selesa bila didukung.

Saya sedikit hairan, bagaimana dia bisa membezakan sentuhan umminya dengan sentuhan para jururawat yang lain!. Sungguh kasih sayang seorang ibu takkan pernah dapat dinilai..demikian sifat rahmah yang Allah kurniakan pada hambanya.

Melihat keadaannya yang semakin baik, saya sedikit selesa untuk pulang semula ke Sarawak Walaupun agak berat untuk berpisah, terutama dengan isteri yang masih dalam pantang dan anak yang masih di Hospital, namun saya gagahkan juga dek mengenangkan tanggungjwab dan amanah yang perlu saya siapkan di Sarawak. Ya, 'amanah' yang akan dipertanyakan Allah di akhirat kelak.

Saya bercadang untuk pulang semula pada hari raya.

Selepas hari raya,

Seminggu saya bercuti untuk hari Raya, menemankan isteri dan anak saya yang masih di HKL. Pada hari hari terakhir cuti saya, keadaan Ammar mula kritikal. Kandungan hemoglobin dalam darah mula berkurangan secara tiba tiba dan platelet juga menyusut. Susu terpaksa dihentikan dan Ammar dikehendaki berpuasa semula.

Saya mula khuatir

"Apa masalahnya Dr?".. saya bertanya

Kami pun tak dapat kenal pasti lagi, kemungkinan ususnya bermasalah. Insya Allah kami akan X-ray dan buat ultra sound untuk kenal pasti masaalah"..Dr menerangkan

Saya redha saja, walaupun saya tahu effect dari sinar radioaktif X-ray.Namun, andai itu saja caranya..

Setelah X-ray dan Ultrasound, Dr masih belum dapat mengenal pasti masalah. Sudah banyak darah dan platelet dibekalkan ke badan Ammar tapi masih tak cukup.

Jadi macam mana Dr?..saya bertanya

"OPERATION, itu saja caranya, risiko hidup 50%"..Dr menjelaskan

Saya redha walaupun terluka, operation untuk kedua kalinya. Saya sedia maklum akan kesan operation terhadap bayi, terutama apabila dibius. Bayi boleh cacat dan akan memberikan kesan kepada otak. Kemungkinan juga bayi akan trauma.

"Inna lillahi wa inna Ilaihi rajiun"..demikian keluh saya, seperti apa yang diajarkan Al Quran kepada sesiapa yang diterima musibah

Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang yang sabar yang apabila ditimpa musibah berkata ' Inna lillahi wa inna Ilaihi Rajiun' Sesunggguhnya kami milik Allah dan kepadaNYA lah kami kembali.(Al-Baqarah 2:155-156 )

Ketika operation, saya solat hajat di surau, mohon Allah kuatkan saya dan isteri walau apa pun keputusannya nanti..

Dan Alhamdulillah, Ammar berjaya dioperate, cuma masalah sebenar masih belum diketahui, ususnya tiada masalah yang besar tapi keadaan masih kritikal.

"Kita hanya boleh tunggu dan lihat bagaimana progressya nanti", salah seorang Dr memberitahu saya

Ya, hanya tunggu dan lihat, buntu saya jadinya, tambahan pula saya sudah perlu pulang ke Sarawak

Sekali lagi saya terpaksa meninggalkan isteri saya yang tengah berduka dan anak saya yang masih kritikal. Saya tiada pilihan, tugas saya sebagai Research assistant waktu itu membuatkan saya perlu balik, ditambah lagi dengan tugasan tugasan dakwah yang tertangguh.

Semasa di Sarawak

Hampir setiap malam saya bangun bertahajud memohon kesudahan dari cerita Ammar. Saya berdoa supaya Allah memberikan jalan keluar sambil bermuhasabah diri. Allah pasti akan kurniakan jalan keluar kepada hambanya yang bertakwa

..Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, nescaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala masalah dan perkara yang menyusahkannya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka sangka... ( At-Thalaq 65:2-3)

"Adakah saya terlalu jauh dengan Allah sehingga Allah menelantarkan saya? Apakah dosa dosa saya dan isteri telah menjauhkan saya daripada Allah? Apakah sudah hilang perasaan cinta saya pada-NYA?, Sudahkah saya menjadi hamba-NYA yang bertakwa?"..Saya bermonolog sendirian.

Sungguh peristiwa ini benar benar telah menyedarkan status saya sebagai Hamba Rabbu Jalil. Seorang hamba yang tidak mampu berbuat apa apa ketika Rabbnya mengkendaki sesuatu

“Sesungguhnya urusan-Nya, apabila Dia mengkehendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya , “Jadilah!” maka jadilah sesuatu itu. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Yaasiin 36:82-83)

20 oktober 2008

Kalau dihitung, sudah 46 hari usia Ammar, namun hidupnya hanya dihiasi dengan dinding kacaincubator, masih belum dapat merasa kelazatan susu umminya, badannya cuma dipakaikan dengan jarum jarum suntikan yang berserakan, sekejap terjaga dan kemudiaanya menangis, mungkin merenung masa depannya yang entah bagaimana..

Saya hilang fokus, saya hanya mampu berdoa..

"Ya Allah!, ku mohon kepada-MU kesudahan dari kisah hidup anakku, Ya Allah! hamba-Mu yang banyak berdosa lagi hina ini memohon ampun dari-Mu, Ya Allah! kurniakanlah yang terbaik untuk anakku, andai kematian itu yang terbaik untuknya, sungguh aku redha, kerana dia, aku, maupun isteriku semuanya milik-MU, namun seandainya ada takdir lain untuknya, ku mohon KAU sembuhkanlah anakku, sungguh aku redha dengan ketentuan-MU"..demikian doa saya dalam tahajud pada malam berikut

Keesokannya 21 Oktober 2008

"Abang, Dr telefon beritahu keadaan Ammar kritikal, Dr minta datang segera"..beritahu isteri saya melalui telefon

Ada orang nak hantar tak? tanya saya,

Saya khuatir kerana isteri saya baru sahaja habis pantang, ditambah lagi dengan keadaan emosi yang tak stabil, amat bahaya untuk memandu

"Tiada", tungkas isteri saya, semua kerja.

"Tapi kereta ada" tambahnya.

Tiada apa yang mampu menahan naluri seorang ibu untuk bertemu anaknya, andai ada badai maupun taufan yang datang menyerang tika itu, saya yakin, pasti akan diredahnya

Isteri saya memandu kereta sendirian, saya pasrah sambil berdoa. Dia memandu dengan linangan air mata, sedangkan saya hanya berdoa dari jauh

Sebuah pengorbanan dari seorang isteri yang akan saya kenang sehingga syahid menjemput saya.

"Bagaimana keadaan Ammar Dr?", tanya isteri saya kepada Dr sebaik sahaja dia tiba di HKL.

semua doktor di wad pediatrik itu sudah mengenali Ammar kerana dia yang paling 'senior' disitu.

"Kritikal!, cuma bergantung pada bantuan oksigen"..jawab Dr

"Saya sudah hendak cabut bantuan pernafasan, cuma menunggu parentnya tiba"..sambung Dr menerangkan.

Meledaklah tangisan isteri saya, mujur ada kakaknya yang bertugas sebagai Dr praktikal tika itu menenangkannya.

Tidak lama kemudian, Ibu dan ayah tiba, semuanya sudah dibenarkan masuk ke ICU tersebut, yang sebelum ini hanya dikhususkan untuk parent sahaja.

Kaki Ammar sudah mula sejuk, tapak kakinya terasa kebas, mukanya sudah mula pucat,  tangannya terkulai lemah, tanda Malaikat Maut sedang berusaha mencabut nyawa si Mujahid kecil ini..

Akhirnya,

tepat jam 1646, di pangkuan ibu saya, Mujahid kecil Muhammad Ammar Ar-Ridho pergi menemui Rabbnya, pemergian yang hakiki bertemu penciptanya..

Sungguh kau telah pergi wahai mujahidku,
Menemui Rabb yang menciptakanmu,
Hanya satu pinta Abi dan Ummi,
dapat bersamamu di syurga nanti.

Demikian saya dedikasikan sejuta tahniah dan kebanggaan yang tidak terhingga buat isteri saya yang benar benar tabah mengharungi semua ini seorang diri.

Untuk isteri saya,

Ammar telah pergi meninggalkan kita, JANNAH sudah pasti menjadi tempat permainannya, namun dimanakah kita ketika itu??, Adakah bersamanya atau sebaliknya??..berusahalah untuk merebut Jannahnya, mudahan mudah dapat bertemu Di Sana...

Sekian, wallhua'lam

sempena setahun kelahiran Mujahid Ammar Ar-Ridho yang telah pergi menemui Rabbnya pada 21 oktober 2008 bersamaan 21 syawal 1429H

Abu Ridho.
5 September 2009
Kuching Sarawak
_______________________

Thursday, September 17, 2009

Aku dan Ramadhan

Bismillah walhamdulillah...

Coretanku kala ini tertumpu bulan mulia. Bulan Ramadhan. Bulan yang dirindui kedatangannya, ditangisi permergiannya. Kala malam pertama aku memasuki bulan ini, debaranku kencang. Mampukah aku beramal setulus hati dengan penuh kerendahan? Atau aku hanya melakukan amal tanpa kehadiran hati ini. Itu tanda-tanda hatiku tidak dipilih Allah. Debaran menjengah lagi kala aku menghampiri solat tarawikh. Usai solat isya’, aku memegang erat sebuah al-Quran. Tanda aku ingin solat dengan memegang mushaf. Sejak malam pertama, solatku hanya di rumah. Anak-anak menjadi saksi solat tarawikhku. Tika aku bujang, sudah tentu aku menghabiskan solat tarawikh ini di masjid-masjid atau surau berdekatan. Namun dengan kehadiran cahaya mata kedua, membuat aku memikirkan kepentingan yang perlu aku jaga. Baik kerisauan anak pertama mengganggu jemaah masjid, mahupun ketenangan anak kecil kedua terganggu kala aku solat di masjid.

Usai tarawikh aku kembali melakukan rutin harianku. Mengemas, mendidik anak dan memasak. Rutin ini aku niatkan semuanya kerana Allah. Agar aku memeperoleh pahala beribadah di bulan mulia. Seawall jam 4 pagi, aku terjaga, dek kerana anak kecil itu perlukan aku. Lantas aku bangun, menidurkan semula si kecil itu. Debaran lagi, kala aku mengambil wudhu’ untuk menunaikan tahajjud. Kerisauanku tertumpu pada hati yang telah banyak lalai di bulan-bulan lepas, menyebabkan Allah mengeringkan hati daripada ingatan kepadanya. Gusar. Perlahan aku mangambil telekung dan kupakai dengan bismillah. Solatku kali ini, kumohon agar dipanjangkan umur untuk aku terus beribadah.

Aku mula melalui hari demi hari dengan rutin ibadah. Tenang. Bulan yang menyenangkan banyak hati, menguatkan seluruh azam. Kala ini menghampiri hari kemenangan. Muhasabah...
Aku lihat masjid dan surau mula lengang. Ada juga yang mula membanjiri masjid kala malam dihujungnya. Iktikaf. Rumah Allah telah mula kosong ketika solat tarawikh. Yang ada dalam fikiran para ibu adalah kuih raya. Patutkah begitu? Malam pertama dilalui dengan penuh kesungguhan dan kekhusyukan, namun diakhiri dengan malam malam yang hambar dengan amal-ibadah. Kadang aku juga terasa sedikit hambar. Muhasabah lagi...

Bagaimana mungkin sebuah institusi keluarga itu hanya bahagia di malam pertamanya namun hambar di malam-malam berikutnya.TIDAK! Jika ia berlaku, itulah tanda-tanda kehancuran sedang menghampiri. Begitu jugalah di bulan ini. Kita sedang berada di penghujung Ramadhan. Amal perlu ditingkatkan, ibadah perlu diperbanyakkan, sedekah perlu dihulurkan, tilawah perlu dinyaringkan. Moga Ramadhan berlalu dengan penuh kebaikan dan pemergiannya dalam keredhaan.

Wallahua’lam...
 

About Me

My Photo
ummu_abdullah
anakkusayang blog Menghamba diri kepada Pencipta akan membawa kepada pengabdian kepada segala Suruhan-Nya… bukan cuma sekadar cakap-cakap kosong dan menganggap diri sudah berjasa… Email: upc007@gmail.com Hamba Allah Kuli Dakwah
View my complete profile

Site Info

Komen Terkini

Perjalanan Insan Mencari Ilahi Copyright © 2009 Community is Designed by Bie