Twitter

Saat Kita Dipisahkan Oleh Dinding Da'wah Profession

Wednesday, November 14, 2007 , Posted by ummu_abdullah at 11/14/2007 02:31:00 AM

Pertemuan kita di suatu hari
Menitikkan ukhuwah yang sejati
Bersyukur ku ke hadap illahi
Di atas jalinan yang suci
Kan ku utuskan salam ingatanku
Dalam doa kudusku sepanjang waktu
Teman, betapapun pilunya hati ini menghadapi perpisahan ini
Hari-hari seperjuangan telah kita rasa bersama
Semoga Allah meridhai persahabatan dan perpisahan ini
Teruskan perjuangan
Senyuman yang tersirat di bibirmu
Menjadi ingatan setiap waktu
Tanda kemesraan bersimpul padu
Kenangku di dalam doamu

- Doa Perpisahan ( The Brothers) -


Di suatu petang di depan surau kampus, aku bergegas menemui dengan temanku yang sudah tiga bulan lebih tak bertemu. Padahal dulu, setiap hari kami selalu bertemu di pengajian-pengajian, tetapi kini tidak lagi karena sebentar lagi kami akan berpisah dan temanku ini pun sedang praktikal.

Seperti biasa, saat bertemu, kami saling mengucap salam, dan berjabat tangan. Temanku ini alhamdulillah mendapatkan hidayahnya di kampus dan sudah setahun berjilbab rapi. Banyak hal yang telah kami lalui bersama di organisasi Islam. Ia lalu berkata, "Mari ke sini.. duduk di sini, ana nak cakap sesuatu pada anti." Dia berkata sambil menarik tanganku dan mengarahkanku untuk duduk. Aku tersenyum padanya. Ia pun tersenyum padaku. Dan kami berdua duduk di depan surau. Langit mendung. Angin bertiup sepoi-sepoi.

Ia kemudian bercerita sedikit tentang kondisinya di tempat praktikal. Dan lalu tiba-tiba ia berkata, "Bila datang waktu shalat, aku jadi ingat kamu.., kerana biasanya ada kamu yang ingatkan,

"ukhti, ukhti.. ayo shalat",

"Tapi, sekarang di tempat kerja, tidak ada lagi yang mengingatiku.." Dia melepaskan kata-kata itu sambil terisak-isak tertahan dan kemudian menutupkan tangannya ke wajahnya. Aku berusaha tersenyum mendengarnya, tetapi akhirnya tidak kuat juga karena mata ini sudah panas dan mengalirlah air mata di pipi.

Kami berdua menangis bersama di depan surau, meski banyak akhwat yang lalu lalang dan bertanya, "Ada apa?". Kami terus menerus berusaha menyeka air mata kami.

Mata ini menangis karena terbayang jelas bagaimana da'wah kita ke depan di dunia kerja, yang bisa saja tidaklah sekondusif di kampus, yang dengan banyaknya akhwat di kampus, kita bisa saling mengingatkan. Saat itu terlintas pula dalam benakku tentang kisah seorang alumni akhwat yang di tempat kerjanya sangat sulit untuk shalat karena teman-temannya pun tak shalat. Atau dari kisah lainnya, bahwa di tempatnya bekerja, banyak yang tak puasa di bulan Ramadhan.

Sesungguhnya selesai Da'wah Kampus ini, masih ada Da'wah Profesion yang boleh jadi jauh lebih berat. Saat itulah idealisme yang selama ini kita canag-canagkan akan menjadi nyata dengan menjadi sebahagian dari masyarakat. Tarbiyah, ukhuwah dan kaderisasi kepemimpinan selama da'wah kampus, akan diuji kekuatannya. Semoga kita tetap istiqomah meski kelak sudah tak lagi menjadi Aktivis Da'wah Kampus. Tarbiyah Dzatiyah atau mentarbiyah diri sendiri adalah benteng utama, pun bergabung dengan da'wah setempat dan menjadi ghurabaa' yang siap mewarnai lingkungannya.

Nikmatilah masa-masa kebersamaan saat masih berda'wah di kampus. Keceriaan, dan segala dinamika yang ada di da'wah kampus, kelak akan menjadi kenangan yang indah dan tak terlupakan. Dan semua kenangan itu dapat menjadi bahan bakar kita untuk menciptakan lagi lingkungan islami dimanapun kita berada. Mencetak orang-orang di sekeliling kita agar menjadi akhwat kita. Sehingga di belahan bumi manapun, di Timur maupun di Barat, ada wajah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pembicaraan kami petang itu, tak berlangsung lama dan akhirnya kami berdua harus berpisah di depan surau kampus dengan mata sembab, hati merindu dan dengan sebuah sketsa tentang da'wah masa depan.


Currently have 0 Komen:

Leave a Reply

Post a Comment