Twitter

Layang-layang

Wednesday, December 3, 2008 , Posted by ummu_abdullah at 12/03/2008 04:36:00 AM

Layang-layang selalu dibuat daripada selembar kertas atau plastik berkerangka yang diterbangkan di udara engan memakai tali atau benang sebagai pengendali. Dalam setiap permainan layang-layang, besar ataupun kecil, dengan berbagai model dan warna yang berbeza, namun tetap mempunyai tujuan yang sama. Terbang ke angkasa, menggapai langit biru yang mewarnai angkasa.

Setiap layang-layang yang terbang itu juga mempunyai karakter masing-masing. Demikian pula dengan seorang muslim, selalu punya karakter, warna, ukuran, kemampuan yang tersendiri. Sehingga siapa pun yang menyatakan dirinya sebagai muslim, dari manapun asalnya, ia tetap mempunyai tujuan yang sama, iaitu menggapai Ridho yang di atas sana, Allah swt.

Layang-layang yang berbentuk sederhana sehingga yang rumit sekalipun, mempunyai syarat yang perlu dipenuhi untuk membolehkannya terbang tinggi, iaitu keseimbangan. Seimbang antara kiri dan kanan, antara kerangka dan sampulnya, mahupun antara kekuatan benang dan juga dirinya. Dan tidak terkecuali keseimbangan angin yang menghembusnya.

Demikian halnya seorang muslim yang ingin terbang dengan baik dan sempurna, ia harus mampu menyeimbangkan diri dalam menapaki kehidupannya. Keseimbangan antara jiwa dan raga, jasmani dan rohani, dunia juga akhirat. 

Namun, untuk mencapai keseimbangan tersebut, layang-layang tadinya menempuh jalan yang bertahap dan berliku. Kerangkanya mestilah diraut dan diteliti, lalu dipotong jika ukurannya tidak sama. Demikian juga kertas yang harus ditempel nipis, agar layang-layang tidak merasa keberatan badannya. Proses ini sudah tentu memerlukan kesabaran, ketekunan, ketelitian untuk mendapatkan hasil yang maksima dan sempurna.

Kerana layang-layang yang diraut dan diteliti sedemikian rupa itu memberikan isyarat kepada kita agar kita tidak menyepelekan hal-hal yang kelihatan sepele. Padahal kesepelean itu sebenarnya sangat mempengaruhi hasil akhir dalam hidup kita. Kerananya, dalam tubuh kita, jiwa dan raga perlu diperkukuhkan, agar ketika kita mendapat angin cubaan yang menghentam, kita tidak mudah patah atau turun menjunam jatuh ke tanah ataupun putuslah kendali.

Ketepatan dan kepersisan itu perlu juga diperhatikan, agar kita tidak menjadi layang-layang yang asal. Agar layang-layang yang buruk akan senget, berputar, terbang tak keruan menghentam bumi dengan tidak baik. Kerananya, kesabaran pun menjadi mutlak dalam mendapatkan hasil yang sempurna. 
"Sungguh, akan dibayar pahala orang-orang yang sabar tanpa batas hitungan" (Az-zumar, 39:10)

Sedangkan sampul layang-layang menunjukkan yang kita pastinya perlu memakai jatidiri, memakai sampul untuk emnunjukkan identiti di tengah masyarakat. Baik itu pakaian, perilaku, akhlak, dan semua kerangka hubungan sosial di masyarakat lainnya. Pamerkan sampul yang indah, cantik pada pandangan mata sehingga orang lain yang melihat tidak takut sehingga menjauh.

Dan ketika layang-layang telah terbang menuju angkasa, tali yang kuat dan kukuh akan mendukung layang-layang sebagai kendali. Seorang muslim juga, ketika mula berkibar, berikrar, pastilah menggunakan tali yang kuat dan baik, yang membuatnya mudah dikendali, tidak cepat putus asa, yang akan membuatnya megah menggapai langit.

Tali yang kuat itulah yang membuat diri kita terkawal. Tali itu tidak lain adalah Al-Quran dan as-Sunnah yang telah dinisbatkan sebagai pedoman dan aturan hidup agar manusia tidak tergelincir ke jurang kenistaan yang menyerupai haiwan.

"Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang erat kepadanya. Kitab Allah (al-Quran) dan sunnahku"

Currently have 1 Komen:

  1. sari says:

    sya suka artikel'a kperumpamaan'a bagus,,,

Leave a Reply

Post a Comment