Twitter

Indahnya Cinta

Sunday, April 12, 2009 , Posted by ummu_abdullah at 4/12/2009 09:06:00 AM


Bersatunya hati dengan tatapan pertama sang penyejuk hati. Kelahiran kedua ini saling tak tumpah wajah abinya. Hening pagi yang sentiasa mengejutkan aku dari tidur nyenyak, dek kerana tangisan pilu Muhammad yang inginkan keperluannya dipenuhi. Mudah aku membuka mata, walau dengan keberatan yang membebani kepala. Kutatap penuh makna wajah si kecil itu. Dalam sekali. ingatanku kembali kepada Sang Khaliq, yang menciptakan dan menyirami diriku dengan rasa cinta yang begitu mendalam kepada si kecil. Kupalingkan wajah ke kiri, Abdullah nyenyak dalam mainan mimpi indah barangkali. Sekali lagi puji syukur kulantunkan buat sang penyejuk hati ini. Yang sentiasa menemaniku menelusuri jalan da'wah tanpa rasa jemu malah mewujudkan satu ikatan harmoni antara aku dan dia. Yang sentiasa memujukku saat aku ditimpa ujian, yang sentiasa mengingatkanku kepada Sang Pencipta kala aku alpa.

Di lubuk hatiku, terpahat nama itu, seorang murobbi, mengajar kami tanpa henti, selagi berdetik nadi. Mengalunkan zikul maut dengan kekuatan hati, membawa kami melayari bahtera syurgawi, agar hati-hati kami terus terpaut dengan Aqidah sejati. Dia jugalah abi, tanpa jemu memahami setiap dari kami, dengan lantunan suara menasihati, kami terbuka menerima sepenuh hati.

Dialah zauji. Saat menelusuri perjalanan menuju penikahan, saat itu juga Allah mengurniakan hati yang sakinah. Indah sekali, malam-malam yang sering basah dengan linangan air mata, hari-hari yang berlalu menciptakan sebuah kisah cinta kepada yang menciptakan cinta, detik demi detik cinta itu bertasbih.

"Anta betul-betul sudi menerima ana? Anta sungguh-sungguh ingin nikah, akh"

"Ya"

'Ya', jawapan itu sekaligus memantapkan hati memujiNYA. Entah bila air mata menyirami bumi, entah bagaimana diri berani bertanyakan soalan ini. Ah, jangan biarkan hati terus digoda syaitan laknatullah. Aku kembali ke kamar dengan wudhu' lalu mencapai sejadah. Kutunaikan solat dua rakaat beserta sujud syukur.

Ya Allah, engkau yang membolak balikkan hati, maka kau tetapkanlah hati ini di atas agamaMU juga di atas ketaatan kepadamu.

Ya Allah, engkau zahirkanlah kepadaku yang benar itu benar, dan yang bathil itu bathil.

Ya Allah, engkau yang mencampakkan ke dalam hatiku cinta ini, seperti laut yang cintakan airnya, tak ingin kekeringan. maka Kau tunjukkan aku jalan kebenaran itu.

Ya Allah, Engkau telah memantapkan hati ini, maka kau berilah hidayahMU, petunjukMU serta maghfirahMU.

Lagi bumi dibasahi. Aku tenggelam dalam lautan dalam. Perlayaran yang membawaku menuju kasih sayang yang tiada terhingga. Mimpi? Pastinya bukan mimpi. Namun itulah impian yang bukan mimpi. Impian yang mengundang harapan. Sejuta harapan seorang insan menuju pernikahan sakinah, mawaddah wa rahmah.

Lagi 'akad itu menguatkan hati, mengukuhkan kaki. Aku terima lamaranmu...
Wahai bidadariku...

Kita adalah dua jasad berbeza namun berkongsi hati yang sama...
Kerna kau, wahai sayangku adalah belahan dari hatiku, dan aku jua merupakan belahan hatimu...
Tercantum dua hati dalam ikatan yang sama...
Susahmu, susahku jua... Sedih pilumu ditanggung bersama... kesakita dan keperitan yang dirasakan, dibahagi dua...

Bagaimana mungkin satu tubuh dapat terorganisasi dengan baik andai punya lebih dari satu kepala?
Bagaimana satu tubuh mampu bekerja andai tiada persefahaman antara semuanya?
Bagaimana mungkin organ-organ dalam satu tubuh itu saling menguatkan andai kedua-duanya tak lagi memahami antara mereka?

Kerna kita satu tubuh, wahai bidadariku... satu tubuh yang punya anggota berbeza...
Kaki tak pernah bertanyakan tangan meminta membantunya berlari, apatah lagi menyalahkan tangan kerananya....

Kita dua manusia berbeza, lelaki dan wannita, masing mempunyai peranan tersendiri yang akhirnya saling menguatkan rumah tangga kita yang satu....

Kerna kau bidadariku... aku tak perlu selainmu...
Coretanmu kutatap dalam. Indah, seindah taman yang dihiasi mawar putih. Seindah pelayaran menuju firdausi. Walau jauh geografinya, namun kukuh dihati. Terima kasih abi, terima kasih murobbi, terima kasih suami mithali.

Currently have 0 Komen:

Leave a Reply

Post a Comment