Twitter

Pentingnya Ketsiqahan dalam Jama'ah

Posted by ummu_abdullah on Monday, March 22, 2010 , under | Komen (0)



Baba (ust Sayuti) bersama Pakcik Zaid... Nice pic, TQ Thufail for this snap.huhu~~

Imam Syahid berkata: Yang saya maksudkan dengan "tsiqah" adalah rasa puasnya seorang perajurit terhadap komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasan; dengan kepuasan mendalam yang dapat menimbulkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan. Allah s.w.t. berfirman:

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما
    “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap ketetapan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
[an-Nisaa': 65]

Pemimpin adalah sebahagian daripada dakwah. Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi penentu kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberkesanan dalam mencapai tujuan-tujuannya, dan kemampuannya mengatasi berbagai rintangan yang menghadangnya.
    طاعة وقول معروف …
    “Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik.”
[Muhammad: 21]

Kepemimpinan – dalam dakwah Ikhwan — memiliki hak sebagaimana orang tua dalam hubungan batin; seorang guru dalam fungsi pengajaran ilmu; seorang syeikh dalam pendidikan rohani; dan pemimpin dalam menentukan kebijakan politik secara umum bagi dakwah. Dakwah kita menghimpun nilai-nilai tersebut secara keseluruhan.

Musuh-musuh Islam menyedari sepenuhnya bahawa Islam adalah musuh terbesar. Sejarah masa silam dan realiti moden telah mengajarkan kepada mereka bahawa apabila umat kita menemukan jalan yang benar menuju Islam, maka kekuasaan mereka terancam keruntuhan dan kelenyapan. Mereka tidak takut kepada Islam yang “lunak” yang tidak memiliki kekuatan, tetapi mereka takut pada Islam dalam bentuk gerakan jihad yang menggembelingkan seluruh kekuatan kaum Muslimin dan menyatukan barisan mereka untuk menghadapi musuhnya.

Wahai Ikhwan, oleh kerana dakwah kalian merupakan kekuatan aqidah dan pergerakan besar melawan musuh-musuh Islam dan menggagalkan berbagai perancangan lawan, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian. Bahkan, tidak ada satupun cara kecuali mereka akan manfaatkan untuk memerangi dan meleburkan dakwah kalian.

Cara paling berbahaya untuk musuh yang licik adalah usaha menimbulkan pergeseran dalaman di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangi pertarungan kerana kekuatan dakwah melemah akibat berpecah-belah. Dan hal yang paling berkesan menimbulkan pergeseran dalaman dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah (kepercayaan) antara perajurit dan pimpinan. Sebab, bila perajurit sudah tidak memiliki kepercayaan pada pimpinannya, maka makna ketaatan akan segera terguncang dalam jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin wujud lagi makna kepemimpinan dan lantaran itu tidak mungkin pula jamaah dapat wujud secara hakikatnya.

Oleh kerana itulah, Imam Syahid menekankan rukun tsiqah dalam “Risalah Ta’lim” dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bay'ah. Beliau menjelaskan kepentingan rukun ini dalam menjaga perpaduan dan kesatuan jamaah. Menurutnya: “… Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi penentu kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberkesanan dalam mencapai tujuan-tujuannya, dan kemampuannya mengatasi berbagai rintangan yang menghadangnya. “Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik.” [Muhammad: 21] Dan tsiqah terhadap pemimpin merupakan segala-galanya bagi kejayaan dakwah.”

Kita tidak mensyaratkan bahawa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkeupayaan sebagai seorang yang paling kuat, paling bertaqwa, paling mengerti dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini hampir sukar untuk dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggalan Rasulullah s.a.w. Cukuplah seorang pemimpin itu, seorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikul amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasa bahawa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pemimpinnya, maka hendaknya ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pemimpin, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinan. Bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.

Saudaraku, mungkin engkau masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. sepeninggalan Rasulullah s.a.w.:
    Umar r.a. berkata: “Hulurkanlah tanganmu! Aku akan membay'ahmu.”
    Abu Bakar berkata: “Akulah yang membay'ahmu.”
    Umar berkata: “Kamulah yang lebih utama daripadaku.”
    Abu Bakar berkata: “Kamu lebih kuat daripadaku.”
    Setelah itu, Umar berkata: “Kekuatanku kupersembahkan untukmu kerana keutamaanmu.”
Dan Umar r.a. benar-benar menjadi kekuatannya sebagai pendokong Abu Bakar r.a.
Di kala seorang bertanya kepada Imam asy-Syahid, “bagaimana apabila suatu keadaan menghalangi kebersamaanmu dengan kami? Menurutmu siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?” Imam asy-Syahid menjawab: “Wahai Ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah ia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian”

Wahai Ikhwan, mungkin kalian masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meskipun demikian, ketika Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikap keras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, “Demi Allah, tidak ada hal lain yang aku fahami kecuali Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (mereka). Lantaran itu, aku tahu bahwa dialah yang benar.”

Andai Umar r.a. tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya. Memperdaya bahawa dialah yang merasa benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Allah s.w.t. telah menjadikan al-haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar.”

Alangkah perlunya kita pada sikap seperti yang ditunjukkan oleh Umar r.a., di saat terjadi perbezaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasulullah s.a.w. memberikan pengiktirafan kepada salah seorang di antara kita, bahawa kebenaran itu pada lisan dan hatinya.
Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keraguan-keraguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah dan pimpinannya. Dan, betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk misi tersebut. Oleh kerana itu, seorang aktivis jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut.

Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang hak, yang diterima Allah s.w.t. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam setiap langkah dan tindakannya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah s.a.w. serta para sahabatnya dan selalu tunduk pada syari'at Allah dalam menangani persoalan yang muncul ketika bergerak dan beramal serta sentiasa mengambilkira kemaslahatan dakwah.

Apabila seorang aktivis mendengar sesuatu atau ragu-ragu tentang sesuatu, maka jangan dibiarkan berlarut. Tetapi harus segera tabayun (re-check) terhadap hakikat yang sebenarnya, sehingga dadanya tetap bersih dari buruk sangka dan ke-tsiqah-annya tetap terjaga. Dengan demikian ia telah memenuhi seruan Allah swt. terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman:
يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين
    “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
 [al-Hujarat: 6]

Allah s.w.t. menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dalam firman-Nya:
وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردوه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم ولولا فضل الله عليكم ورحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا
    “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyebarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil-Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil-Amri). Kalau tidaklah kerana anugerah dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”
[an-Nisaa': 83]

Kami mengingatkan bahawa kadangkala surat khabar atau media massa lainnya mengutip perkataan atau pendapat yang disebutkan oleh para pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keraguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menimbulkan ketidakstabilan di dalam tubuh jamaah.

Oleh kerana itu, seorang aktivis Muslim tidak diperbolehkan menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca dalam media massa. Ia tidak boleh melunturkan tsiqah-nya dan tidak boleh menyebarkan atas dasar pembenaran. Ia harus melakukan tabayyun terlebih dahulu.

Berkenaan dengan rukun tsiqah ini, Imam asy-Syahid berkata: “Sesungguhnya, tsiqah kepada pimpinan merupakan segala-galanya bagi kejayaan dakwah. Kerananya, aktivis yang tulus harus mengutarakan beberapa pertanyaan berikut kepada diri sendiri, untuk mengetahui sejauh mana ke-tsiqah-an dirinya pada pimpinannya:
  1. Sudahkah mengenal pemimpin dan mempelajari keadaan kehidupannya?
  2. Percayakan pada kemampuan dan keikhlasannya?
  3. Bersediakah ia menganggap seluruh perintah yang diberikan pemimpin untuknya – sepastinya yang tidak bernilai maksiat – sebagai arahan yang harus dilaksanakan tanpa reserve, tanpa ragu, tanpa mengurangi dan memberi komentar, dengan disertai pengutaraan nasihat dan masukan untuk mencapai kebenaran?
  4. Bersediakah ia menganggap dirinyalah yang salah dan pemimpinnyalah yang benar, jika terdapat pertentangan di antara sikap pemimpin dan apa yang ia ketahui dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak ada teks tegasnya dalam syariat.
  5. Bersediakah ia meletakkan seluruh gerakerja kehidupannya dalam kendalian dakwah? Apakah pada pandangannya pemimpin memiliki hak untuk mentarjih (menimbang dan memutuskan yang terkuat) antara kepentingan pribadi dan kepentingan dakwah secara umum?
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan yang seumpamanya, aktivis yang tulus dapat memastikan sejauh mana hubungan tsiqah/kepercayaan terhadap pemimpin. Adapun hati, ia berada dalam genggaman Allah. Dia yang menggerakkan hati sekehendak-Nya.

لو أنفقت ما في الأرض جميعا ما ألفت بين قلوبهم ولكن الله ألف بينهم إنه عزيز حكيم
    “Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
     
Oleh
Muhammad Abdul Halim Hamid

    Mereka Itulah Orang-orang yang Lalai

    Posted by ummu_abdullah on Friday, March 12, 2010 , under | Komen (4)



    Jazakillah khair Kak Ayu. Video ini sedikit sebanyak menyentuh hati ini yang perlukan peringatan setiap masa...



    Berfikirlah... Kita manusia yang dijadikan Allah, dapat berfikir walau berlaku sekecil-kecil perkara. Dengan rajin berfikir, kita akan mula bertindak. Manusia yang enggan berfikir dan enggan mencari jawapan daripada segenap persoalan sering leka... Sering lalai hingga hilang arah tuju.

    "Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahannam banyak dari kalangan Jin dan Manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakannya untuk mengingati ayat-ayat Allah dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan ALlah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti haiwan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (al-A'raf : 179)

    Sedangkan haiwan punyai deria untuk mengesan sesuatu yang berbahaya baginya. Manusia punyai al-'Aqlu untuk berfikir dan bertindak. Jika ia tidak digunakan, samalah seprti haiwan ternak yang tidak punya 'Aqal. Bermakna mereka mula lalai dan mula leka.

    Dengan sikap malas berfikir ini, datanglah syaitan untuk menggerakkannya sehingga membuahkan amal-amal kelalaian...
    Wallahua'lam...
    PS: Antum lebih faham dengan memahami bait-bait kata akh Hamza Yusuf di bawah.




    Tausiyah Untuk Para Du'at, Kuatkan Iman

    Posted by ummu_abdullah on Sunday, March 7, 2010 , under | Komen (0)




    Ujian adalah LUMRAH
    Tiada Ujian, Tiada Cinta
    Dengan cinta, iman berbuah
    Itulah cinta Allah yang ESA


    Moga tsabat dan kuat di atas jalan yang penuh dengan ranjau dan duri. Jalan yang mampu dilalui oleh insan-insan yang mempunyai bekal dengan IMAN dan TAQWA ini adalah jalan yang tidak lari dari fitnah, gangguan, kecaman dan ancaman. Kerana dengan semua itu, iman mula teguh dan tertanam kuat di hati. InsyaAllah...

    ~~Cukup 5 Orang, Ainul tiada dalam gambar...hehe~~

    Keperbagaian Wadah, Jelaskan Matlamat Kita!

    Posted by ummu_abdullah on , under | Komen (2)



    Sumber: http://hambamurabbi.blogspot.com/
    (Jazakallah khair Bancik sebab memenuhi permintaan aku..! Moga Allah Meredhai mu!)

    Kepelbagaian organisasi dan kumpulan-kumpulan dakwah menyebabkan masing-masing mendakwa bahawa mereka ialah yang terbaik dan yang paling dekat dengan Islam. Suasana ini memberi kesan yang amat mendalam kepada masyarakat dalam memahami tujuan dakwah dengan jelas. Tidak perlu dinafikan kerana sudah banyak mereka yang ingin berkorban untuk Islam tetapi terkorban kerana matlamatnya tidak jelas. Ataupun mereka merasa matlamat yang sedang mereka perjuangkan adalah jelas tetapi sebenarnya berpunca daripada hasil fahaman yang syubhah.

    PAHLAWAN NERAKA

    Syarat penerimaan amalan dalam ibadah ialah ikhlas. Setiap perkara yang dilakukan tanpa ikhlas tidak akan diterima Allah SWT. Boleh jadi juga bercampur unsur syirik jika niat disertakan dengan selain Allah SWT. Fudhail bin ‘Iyadh berkata:




    “Meninggalkan amal kerana manusia adalah riya’ dan beramal kerana mansia adalah syirik. Ikhlas adalah apabila Allah SWT membersihkan kamu dari keduanya” (al kabair oleh az Zahabi)

    Ada juga satu kisah disebut dalam sohih bukhari tentang seorang sahabat yang bernama Qozman yang berperang dalam satu peperangan:

    “…dalam barisan muslimin juga terdapat seorang lelaki yang tidak berjumpa musuh kecuali ia membunuhnya sehingga ia terbunuh.

    Para sahabat berkata kepada Rasulullah SAW: “Tidak seorangpun yang dapat berbuat seperti fulan ini.”

    Rasulullah SAW menjawab: “Sesungguhnya dia adalah ahli neraka”.

    Pada akhir hadis Rasulullah SAW bersabda:



    “bahawa seorang lelaki beramal dengan amalan ahli syurga seperti yang dipandang manusia sedangkan dia ialah ahli neraka” (sohih bukhari, bab perang khaibar, 4202)





    TERSASAR WALAUPUN BERSAMA


    Dalam kitab Fathul Bari ada disebutkan bahawa Qatadah bin Nu’man melintasi Qozman ketika sedang berperang.

    “Tahniah pada kamu dengan syahid(jika kamu mati syahid)” Qatadah menyapa.

    “Demi Allah aku tidak berperang kerana agamaku, tetapi aku berperang kerana kaumku”.


    Ikhwah yang dirahmati Allah,


    Kita perlu menetapkan tujuan dengan jelas supaya kita tidak tersasar daripada Islam. Jika kita berjuang dalam salah satu jamaah daripada jamaah islam, kita perlu faham ia adalah salah satu wasilah bagi melaksanakan tujuan asal iaitu islam. Jangan berjuang kerana wasilah atau jamaah, tetapi berjuanglah kerana Islam.

    Inilah seruan para nabi yang hanya menyeru manusia kepada Allah walaupun berbeza kaum dan bangsa. Menyeru kepada adab dan akhlak islam serta beramal dengan hukum islam. Darah kita hanya untuk jamaah islam, bukan untuk jamaah daripada jamaah islam. Jangan sasarkan matlamat kita dengan penjajahan pemikiran syaitan kerana ia akan mencemarkan keikhlasan dalam berjuang.


    Qaedah Sulbah, Siapakah Kita?

    Posted by ummu_abdullah on Thursday, March 4, 2010 , under | Komen (0)



    Bismillah walhamdulillah

    “Kafilah Dakwah sudah mula berangkat, ayuh sertai kafilah dakwah dalam menuju Ustaziyatul Alam” Itulah sedikit kata-kata juru bicara IKRAM sabtu lepas.

    Sepanjang 2 hari, 3 tempat telah diterokai demi mencari redha Allah dan kerana Allah. Begitu membekas jejak-jejak yang kami lalui. Alhamdulillah.

    Ikhwah wa akhwat, amat benarlah kata Imam Malik, “semakin banyak aku belajar, semakin banyak yang aku belum tahu”

    Subhanallah, begitu tinggi dan mendalam penghayatan sirah dalam katibah lepas. Bukan penghayatan tiada realiti, malah ia merupakan penghayatan menusuk ke dalam ruh dan jiwa nurani. Betapa hebat Qaedah Sulbah suatu ketika dahulu, sehebat itu juga yang perlu kita bina. Betapa ramai Qaedah Sulbah suatu ketika dahulu, seramai itu juga yang perlu ditajmi’ dalam membangun khilafah seterusnya ustaziyatul alam.

    Ketika khutbah wida’, seramai 124,000 umat islam perlu ditarbiyah oleh Qaedah Sulbah yang yang telah dibina Rasulullah bersama para sahabat. Dalam masa yang sama, Rasullah pula wafat. Cuba semak, sepanjang hidup Rasulullah, Baginda tidak membina Qaedah Sulbah semata-mata untuk membantu dakwahnya, malah menggantikan tempatnya. Itulah Saidina Abu Bakr yang menyedarkan Saidina Umar yang berang saat sahabat memberitahu kewafatan Rasulullah. Kewafatan baginda merupakan suatu yang amat berat di hati para sahabat kerana tugas dakwah yang bakal dipikul mereka akan lebih hebat dan berat.

    Dakwah tetap didukung dan dipikul oleh para sahabat dalam membentuk akh dan ukht yang tiada sesuatu pun dalam dirinya melainkan syurga. Sekarang, bagaimana membentuk Qedah sulbah dalam komuniti atau medan kita? Pastinya ia berbalik kepada hal-hal asas.
    Semua hal-hal yang terkait dengan fitnah, gangguan, kutukan dan kesakitan mampu untuk diharungi oleh Qaedah Sulbah.

    Sorotan ringkas Zaman Rasulullah s.a.w

    Ketika dakwah Rasulullah di Mekah, baginda telah mentakwin para sahabat sehingga mereka menjadi orang yang benar-benar menazarkan diri mereka kepada Allah dan sanggup menerima ujian dan cubaan dalam mempertahankan Islam. Keadaan umat Islam ketika ini masih lagi lemah dari segi kuantitinya.

    Ketika berlakunya Intiqa’ (pemilihan), yang akan kekal bersama Islam hanyalah mereka yang:

    1. Sanggup menazarkan dirinya kepada Allah
    2. Menyediakan dirinya mengharungi segala beban


    Dua cirri inilah yang terdapat dalam diri para sahabat ya’ni assabiqunal awwalun. Tabiat Dakwah Rasululullah itu tidak lari dari ujian, fitnah, gangguan, kutukan dan kesakitan.

    “Kalau apa yang Engkau serukan kepada mereka (Wahai Muhammad) sesuatu yang berfaedah Yang sudah didapati, dan satu perjalanan yang sederhana (tidak begitu jauh), nescaya mereka (yang munafik itu) akan mengikutmu; tetapi tempat yang hendak dituju itu jauh bagi mereka, dan mereka akan bersumpah dengan nama Allah dengan berkata: "Kalau kami sanggup, tentulah kami akan pergi bersama kamu" (dengan sumpah dusta itu) mereka membinasakan diri mereka sendiri, sedang Allah mengetahui bahawa sesungguhnya mereka itu orang-orang yang berdusta (tentang tidak sanggupnya mengikutmu) (At-Taubah: 42)

    Malah, orang-orang yang tidak tahan akan lari meninggalkan dakwah. Akan tetapi jumlah mereka amatlah sedikit. Hasil daripada dakwah Rasulullah di Mekah, sehingga Hijrahnya Rasulullah dan para sahabat, ujian yang telah mereka lalui cukup memantapkan iman dan aqidah mereka. Dari sinilah munculnya Assabiqunal awwalunal Muhajirin.

    Awal Hijrah

    Semua Kaum Muhajirin dan Ansar terlibat dalam Perjanjian Aqabah kedua. Maka di sinilah munculnya Assabiqunal awwalunal Ansar. Walaupun kaum Ansar tidak mendapat tarbiyah seperti para Muhajir, namun Bai’atul ‘Aqabah telah membuktikan bahawa golongan Ansar juga mempunyai kedua-dua ciri di atas. Mereka tahu akan beban perjanjian yang tiada menjanjikan ganjaran dunia, namun hanyalah kemenangan Islam.

    Inilah Qaedah Sulbah Rasulullah semasa awal fasa Madinah. (Assabiqunal awwalun minal muhajirin wal Ansar)

    Qaedah Sulbah Rasulullah telah bertambah dan terdiri daripada pahlawan-pahlawan yang kuat dan gagah berani. Ketika Peperangan Badar Al-Kubra pada 17 Ramadhan, tahun ke 2 Hijrah, kesemua Qaedah Sulbah menyertainya dengan penuh kesungguhan dan ketundukan pada Allah. Baginda Rasulullah amat bimbang andai kekalahan menjemput mereka. Andai lenyap semua qaedah sulbah ini, maka lenyaplah dakwah ilallah.

    “Ya Allah, sempurnakanlah kepadaku segala apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa-apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan pasukan Islam, tentulah Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini.”
    Sungguh amat pilu doa ini, menunjukkan betapa Rasulullah s.a.w amat bimbang dan mengharapkan kemenangan. Dan Allah telah menunaikan janjiNYA. Maka kemenanan berada di pihak pasukan Islam.


    “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, ‘Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut- turut’.” (QS. Al-Anfal: 9)


    Namun, sedikit kegoncangan berlaku di dalam masyarakat Islam di Madinah setelah pasukan Badar pulang dengan kemenangan. Hal ini kerana terdapat dua golongan manusia yang memeluk Islam.

    1. Taqlid (Terpegun dengan kemenangan Islam)
    2. Munafiq


    Keadaan yg berlaku ini dinamakan At-takhalkhal (tidak seimbang). Hal ini berlaku akibat pertambahan mendadak bilangan umat Islam yang terdiri daripada dua golongan tersebut. Perbezaan mustawa iman antara ahli Badar dengan umat Islam yg baru inicukup ketara. Nah! Di sinilah peranan Qaedah Sulbah yang merupakan ahli Badar tadi untuk mentarbiyah para penganut baru agama Islam ini.

    Ketidak seimbangan bukan saja berlaku pada ketika itu sahaja. Malah, dalam beberapa peristiwa selepas itu sehingga sekarang, at-takhalkhal masih berlaku.


    Kesimpulan

    1. Di Mekah, para sahabat melalui mehnah dan rintangan yang sangat berat. Ia merupakan suatu persediaan amal yang besar. Oleh sebab itu, pastikan bahawa proses tarbiyah itu tetap terus berlangsung dan terjaga. Jangan sampai amal-amal dakwah itu mengganggu tarbiyah diri sendiri. (Tarbiyah Dzatiyah)

    2. Allah lebih mengetahui bagaimana persediaan yang perlu dilalui oleh generasi dakwah. Ujian, cubaan, fitnah, kesakitan dan kesusahan itu telah meruntun banyak hati untuk terus meninggalkan amal-amal dakwah. Masa yang panjang amat menguji kesabaran para pendokong dakwah yang ingin sentiasa “laju” dan kemudiannya lelah dalam perjalanannya sendiri. INGAT! Membina para da’ie tidak mengambil masa yang singkat, kerana kita mahukan perubahan diri itu lahir daripada pemilik hati itu sendiri. Bukan paksaan. Kerana kita ingin membina manusia yang di dalam hatinya hanya ada SYURGA!


    3. Itulah peranan dan kepentingan Qaedah Sulbah. Memelihara, menjaga dan memastikan keberlangsungan dakwah dalam segenap peringkat. Pembentukan mereka ini memakan masa yang lama.

    4. Perhatikan bagaimana manhaj perjalanan dakwah Islam sejak zaman Rasulullah. Tarbiyah dimulai dengan pembinaan Qaedah Sulbah. Kemudian disusuli dengan tarbiyah yang berterusan. Pemantapan ilmu, iman dan amal yang berkesinambungan, mantap dan mencukupi. Oleh itu, berhati-hatilah dalam membuka suatu medan dakwah sebelum Qaedah Sulbah benar-benar terbentuk dan mampu melaksanakan tugasannya.
    Wallahua’lam

    PS: Cukup ringkas kesimpulan ini. Moga memberi sedikit pencerahan dan pengajaran buat pembaca…