Twitter

Pentingnya Ketsiqahan dalam Jama'ah

Monday, March 22, 2010 , Posted by ummu_abdullah at 3/22/2010 07:21:00 PM

Baba (ust Sayuti) bersama Pakcik Zaid... Nice pic, TQ Thufail for this snap.huhu~~

Imam Syahid berkata: Yang saya maksudkan dengan "tsiqah" adalah rasa puasnya seorang perajurit terhadap komandannya dalam hal kemampuan dan keikhlasan; dengan kepuasan mendalam yang dapat menimbulkan rasa cinta, penghargaan, penghormatan dan ketaatan. Allah s.w.t. berfirman:

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما
    “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap ketetapan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
[an-Nisaa': 65]

Pemimpin adalah sebahagian daripada dakwah. Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi penentu kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberkesanan dalam mencapai tujuan-tujuannya, dan kemampuannya mengatasi berbagai rintangan yang menghadangnya.
    طاعة وقول معروف …
    “Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik.”
[Muhammad: 21]

Kepemimpinan – dalam dakwah Ikhwan — memiliki hak sebagaimana orang tua dalam hubungan batin; seorang guru dalam fungsi pengajaran ilmu; seorang syeikh dalam pendidikan rohani; dan pemimpin dalam menentukan kebijakan politik secara umum bagi dakwah. Dakwah kita menghimpun nilai-nilai tersebut secara keseluruhan.

Musuh-musuh Islam menyedari sepenuhnya bahawa Islam adalah musuh terbesar. Sejarah masa silam dan realiti moden telah mengajarkan kepada mereka bahawa apabila umat kita menemukan jalan yang benar menuju Islam, maka kekuasaan mereka terancam keruntuhan dan kelenyapan. Mereka tidak takut kepada Islam yang “lunak” yang tidak memiliki kekuatan, tetapi mereka takut pada Islam dalam bentuk gerakan jihad yang menggembelingkan seluruh kekuatan kaum Muslimin dan menyatukan barisan mereka untuk menghadapi musuhnya.

Wahai Ikhwan, oleh kerana dakwah kalian merupakan kekuatan aqidah dan pergerakan besar melawan musuh-musuh Islam dan menggagalkan berbagai perancangan lawan, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian. Bahkan, tidak ada satupun cara kecuali mereka akan manfaatkan untuk memerangi dan meleburkan dakwah kalian.

Cara paling berbahaya untuk musuh yang licik adalah usaha menimbulkan pergeseran dalaman di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangi pertarungan kerana kekuatan dakwah melemah akibat berpecah-belah. Dan hal yang paling berkesan menimbulkan pergeseran dalaman dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah (kepercayaan) antara perajurit dan pimpinan. Sebab, bila perajurit sudah tidak memiliki kepercayaan pada pimpinannya, maka makna ketaatan akan segera terguncang dalam jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin wujud lagi makna kepemimpinan dan lantaran itu tidak mungkin pula jamaah dapat wujud secara hakikatnya.

Oleh kerana itulah, Imam Syahid menekankan rukun tsiqah dalam “Risalah Ta’lim” dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bay'ah. Beliau menjelaskan kepentingan rukun ini dalam menjaga perpaduan dan kesatuan jamaah. Menurutnya: “… Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin, menjadi penentu kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberkesanan dalam mencapai tujuan-tujuannya, dan kemampuannya mengatasi berbagai rintangan yang menghadangnya. “Maka lebih utama bagi mereka ketaatan dan perkataan yang baik.” [Muhammad: 21] Dan tsiqah terhadap pemimpin merupakan segala-galanya bagi kejayaan dakwah.”

Kita tidak mensyaratkan bahawa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkeupayaan sebagai seorang yang paling kuat, paling bertaqwa, paling mengerti dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini hampir sukar untuk dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggalan Rasulullah s.a.w. Cukuplah seorang pemimpin itu, seorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikul amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasa bahawa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pemimpinnya, maka hendaknya ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pemimpin, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinan. Bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.

Saudaraku, mungkin engkau masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. sepeninggalan Rasulullah s.a.w.:
    Umar r.a. berkata: “Hulurkanlah tanganmu! Aku akan membay'ahmu.”
    Abu Bakar berkata: “Akulah yang membay'ahmu.”
    Umar berkata: “Kamulah yang lebih utama daripadaku.”
    Abu Bakar berkata: “Kamu lebih kuat daripadaku.”
    Setelah itu, Umar berkata: “Kekuatanku kupersembahkan untukmu kerana keutamaanmu.”
Dan Umar r.a. benar-benar menjadi kekuatannya sebagai pendokong Abu Bakar r.a.
Di kala seorang bertanya kepada Imam asy-Syahid, “bagaimana apabila suatu keadaan menghalangi kebersamaanmu dengan kami? Menurutmu siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?” Imam asy-Syahid menjawab: “Wahai Ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah ia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian”

Wahai Ikhwan, mungkin kalian masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meskipun demikian, ketika Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikap keras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, “Demi Allah, tidak ada hal lain yang aku fahami kecuali Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi (mereka). Lantaran itu, aku tahu bahwa dialah yang benar.”

Andai Umar r.a. tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya. Memperdaya bahawa dialah yang merasa benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, “Allah s.w.t. telah menjadikan al-haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar.”

Alangkah perlunya kita pada sikap seperti yang ditunjukkan oleh Umar r.a., di saat terjadi perbezaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasulullah s.a.w. memberikan pengiktirafan kepada salah seorang di antara kita, bahawa kebenaran itu pada lisan dan hatinya.
Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keraguan-keraguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah dan pimpinannya. Dan, betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk misi tersebut. Oleh kerana itu, seorang aktivis jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut.

Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang hak, yang diterima Allah s.w.t. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam setiap langkah dan tindakannya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah s.a.w. serta para sahabatnya dan selalu tunduk pada syari'at Allah dalam menangani persoalan yang muncul ketika bergerak dan beramal serta sentiasa mengambilkira kemaslahatan dakwah.

Apabila seorang aktivis mendengar sesuatu atau ragu-ragu tentang sesuatu, maka jangan dibiarkan berlarut. Tetapi harus segera tabayun (re-check) terhadap hakikat yang sebenarnya, sehingga dadanya tetap bersih dari buruk sangka dan ke-tsiqah-annya tetap terjaga. Dengan demikian ia telah memenuhi seruan Allah swt. terhadap hamba-hamba-Nya yang beriman:
يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبأ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين
    “Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”
 [al-Hujarat: 6]

Allah s.w.t. menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dalam firman-Nya:
وإذا جاءهم أمر من الأمن أو الخوف أذاعوا به ولو ردوه إلى الرسول وإلى أولي الأمر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم ولولا فضل الله عليكم ورحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا
    “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyebarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil-Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil-Amri). Kalau tidaklah kerana anugerah dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”
[an-Nisaa': 83]

Kami mengingatkan bahawa kadangkala surat khabar atau media massa lainnya mengutip perkataan atau pendapat yang disebutkan oleh para pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keraguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menimbulkan ketidakstabilan di dalam tubuh jamaah.

Oleh kerana itu, seorang aktivis Muslim tidak diperbolehkan menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca dalam media massa. Ia tidak boleh melunturkan tsiqah-nya dan tidak boleh menyebarkan atas dasar pembenaran. Ia harus melakukan tabayyun terlebih dahulu.

Berkenaan dengan rukun tsiqah ini, Imam asy-Syahid berkata: “Sesungguhnya, tsiqah kepada pimpinan merupakan segala-galanya bagi kejayaan dakwah. Kerananya, aktivis yang tulus harus mengutarakan beberapa pertanyaan berikut kepada diri sendiri, untuk mengetahui sejauh mana ke-tsiqah-an dirinya pada pimpinannya:
  1. Sudahkah mengenal pemimpin dan mempelajari keadaan kehidupannya?
  2. Percayakan pada kemampuan dan keikhlasannya?
  3. Bersediakah ia menganggap seluruh perintah yang diberikan pemimpin untuknya – sepastinya yang tidak bernilai maksiat – sebagai arahan yang harus dilaksanakan tanpa reserve, tanpa ragu, tanpa mengurangi dan memberi komentar, dengan disertai pengutaraan nasihat dan masukan untuk mencapai kebenaran?
  4. Bersediakah ia menganggap dirinyalah yang salah dan pemimpinnyalah yang benar, jika terdapat pertentangan di antara sikap pemimpin dan apa yang ia ketahui dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak ada teks tegasnya dalam syariat.
  5. Bersediakah ia meletakkan seluruh gerakerja kehidupannya dalam kendalian dakwah? Apakah pada pandangannya pemimpin memiliki hak untuk mentarjih (menimbang dan memutuskan yang terkuat) antara kepentingan pribadi dan kepentingan dakwah secara umum?
Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dan yang seumpamanya, aktivis yang tulus dapat memastikan sejauh mana hubungan tsiqah/kepercayaan terhadap pemimpin. Adapun hati, ia berada dalam genggaman Allah. Dia yang menggerakkan hati sekehendak-Nya.

لو أنفقت ما في الأرض جميعا ما ألفت بين قلوبهم ولكن الله ألف بينهم إنه عزيز حكيم
    “Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, nescaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
     
Oleh
Muhammad Abdul Halim Hamid

    Currently have 0 Komen:

    Leave a Reply

    Post a Comment